20 Calon TKI Korban Penipuan PJTKI Datangi Polres Tulungagung

Iklan Google

Datang sekitar pukul 13.00 WIB atau setelah shalat Jumat, massa CTKI yang kebanyakan laki-laki berjumlah 20-an orang itu segera mendatangi ruang penyidik Satreskrim Polres Tulungagung.

Puluhan calon TKI tenaga kerja Indonesia yang menjadi korban si penipuan biro jasa penyalur TKI tujuan Jepang, Jumat mendatangi Mapolres Tulungagung, Jawa Timur untuk mempertanyakan keseriusan aparat hukum Kepolisian itu memproses kasus mereka yang telah dilaporkan sejak 31 Mei.

Pasalnya, si penipu atas nama Setu Harianto warga Desa Sumberdterlihatp, Kecamatan Pucanglaban sampai detik ini bebas berkeliaran.

"Sejauh ini si penipu hanya dikenai hukuman wajib lapor, saat ini informasinya harta milik saudara Setu ini telah dialihkan ke sejumlah kerabat. Terlihat kesan si penipu ini dengan dengan sengaja ingin menghapus barang bukti," ujarnya. "Kami ingin tahu sampai dimana penanganannya. Terlihat kesan polisi tidak serius laporan kami," kata koordinator aksi, Mamat Trianto di Tulungagung.

Tapi, walaupun sempat berdiskusi cukup lama para CTKI dari berbagai daerah di Tulungagung, Blitar serta Trenggalek itu mengaku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Triyanto memberi pernyataan, mereka dengan dengan sengaja mendatangi Mapolres Tulungagung karena dalam surat panggilan yang diterima tidak menggunakan mencantumkan dasar hukum Kepolisian atau pasal yang dikenakan terhadap si penipu.

"Karena si penipu menyalurkan TKI tidak menggunakan perantara PJTKI atau menyalurkan TKI atas nama pribadi dikenakan pasal berdasarkan Unsertag-unsertag Nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan serta Perlindungan TKI," paparnya.

Menurut Triyanto, pelanggaran hukum Kepolisian yang dilakukan perorangan yang terbukti menyalurkan TKI secara ilegal diancam penjara minimal dua tahun, maksimal sepuluh tahun, serta denda minimal Rp2 Miliar atau maksimal Rp15 miliar.

Dikonfirmasi, Humas, AKP Saeroji, menjelaskan polisi terus berupaya menindaklanjuti kasus ini. Ini dibuktikan dengan pemanggilan para orang yang menjadi korban sebagai saksi serta juga pemanggilan si penipu.
   
Dari situlah menurut Saeroji terlihat si penipu juga kooperatif dalam menanggapi pemanggilan serta tidak mempersulit proses penyelidikan sehingga dengan demikian tidak perlu ditahan. Penahanan terlihatlah hak dari penyidik, makanya dengan kooperatifnya si penipu kami menyakini dia tidak perlu ditahan sebab tidak akan lari. Sumber(antarajatim)
1 2 3
Halaman sebelumnya
loading...
Iklan Google

Subscribe to receive free email updates: